Selasa, 6 Desember 2016
   HOME   PRODUK PERUNDANGAN   PROFIL      KONTAK KAMI    BUKU TAMU    GALERI   LINK TERKAIT    SITEMAP   






PENDIDIKAN HOLISTIK, EKSPEKTASI PENDIDIKAN INDONESIA MASA DEPAN

___________________________________________________________________________


PENDIDIKAN HOLISTIK,

EKSPEKTASI PENDIDIKAN INDONESIA MASA DEPAN

Oleh : Drs. H. Ahmad Zakariya, M.Pd.

ABSTRAK

Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan dimensi kemanusiaan paling elementer dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu, sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai.

Pada saat ini banyak model pendidikan yang berdasarkan pandangan abad ke 19 yang menekankan pada reductionism (belajar terkotak-kotak), linier thinking (bukan sistem) dan positivism (fisik yang utama), yang membuat siswa sulit untuk memahami meaning relevance dan value antara yang dipelajari disekolah dengan kehidupannya. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem pendidikan yang terpusat pada anak yang dibangun berdasarkan asumsi connectedness, wholeness dan being fully human.

Pendidikan Holistik merupakan suatu respon yang bijaksana atas ekologi, budaya, dan tantangan moral pada abad ini, yang bertujuan untuk mendorong para kaum muda sebagai generasi penerus untuk dapat hidup dengan bijaksana dan bertanggung jawab dalam suatu masyarakat yang saling pengertian dan secara berkelanjutan serta ikut berperan dalam pembangunan masyarakat.

Kata Kunci : Masa Depan, Pendidikan Holistik

 

A. PENDAHULUAN

     Pendidikan merupakan bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Perubahan atau perkembangan pendidikan memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.

     Pendidikan tidak hanya ditekankan pada aspek kognitifnya saja, yang  hanya mengandalkan kecerdasan otak kiri saja, tetapi perlu seimbang dengan aspek-aspek lainya, seperti afektif dan psikomotorik. Pendidikan juga harus menyentuh potensi nurani disamping potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang diperoleh dan dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.

     Agar dimensi-dimensi kemanusiaa paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal, menurut para pakar pendidikan modern harus didukung dengan model pendidikan yang dirancang secara sistematis dan bersifat menyeluruh (holistik). Dengan demikian, pendidikan akan menjadi wahana strategis bagi upaya pengembangan segenap potensi individu, sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai.

       

B.  PEMBAHASAN

1.   Pengertian Pendidikan Holistik

Menurut Ron Miller, pendiri Jurnal Holistic Education Review, “Holistic Education is a philosophy of education based on the premise that each person finds identity, meaning, and purpose in life through connections to the community, to the natural world, and to humanitarian values such as compassion and peace. Holistic education aims to call forth from people an instrinsic reverence for life and a passionate love of learning.

Karena praktek pendidikan selama ini dianggap gagal menjawab tantangan dan kemelut zaman, maka pendidikan holistik sering dianggap sebagai pendidikan alternatif. Robin Ann Martin menjelaskan : “Ats its most general level, what distinguishes holistic education from other forms of education are its goals, its attentions to experiential learning, and the significance that it places on relationships and primary human values within the learning environment.”

Istilah “holistik” adalah sebuah persitilahan yang berasal dari kata dalam bahasa Inggeris, yaitu:whole” yang berarti keseluruhan. Dalam kamus Webster`s New World Dictionary istilah holistic diartikan “ relating to holism and of concerned with or dealing with wholes or integrated system rather than with their parts.”  Berdasarkan definisi ini, menurut Husein Heriyanto, paradigma holistik adalah suatu cara pandang yang menyeluruh dalam mempersepsi realitas.  Berpandangan holistik artinya lebih memandang aspek keseluruhan daripada bagian-bagian, bercorak sistemik, terintegrasi, kompleks, dinamis, nonmekanik, nonlinier. Di samping itu sebagaimana disebutkan dalam Webster`s New Unabridged English Dictionary bahwa istilah heal (penyembuhan) dan health (kesehatan) secara etimologis memiliki akar kata yang sama dengan istilah whole(keseluruhan). Hal ini mengindikasikan bahwa berpikir holistik berarti berpikir sehat. Atau dapat diartikan pula bahwa agar sembuh dan hidup sehat sebagai manusia, maka kita hendaknya berpikir holistik.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan holistik adalah pendidikan yang memberikan pemahaman terhadap permasalahan global seperti HAM, keadilan sosial, multikultural, agama dan pemanasan global, sehingga mampu melahirkan peserta didik yang berwawasan dan berkarakter global serta mampu memberikan solusi terhadap permasalahan kemanusiaan dan perdamaian.

Dengan demikian pendidikan holistik bertujuan memberrntuk peserta didik  yang setia memahami persoalan lingkungannya dan berusaha ikut terlibat lamgsung dalam upaya pemecahan masalah-masalah lokal dan global. Hal ini meniscayakan kompetensi dan militansi yang memadai dari peserta didik tentang diri, lingkungan sosial serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

 

2.   Karakteristik Pendidikan Holistik

Dari sudut pandang filosofis pendidikan holistik adalah merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual. Dalam koneks ini, meminjam formulasi Heriyanto  tentang paradigma “holistik-dialogis”nya, bahwa setidaknya ada dua karateristik pendidikan holistik yang harus diperhatikan, yaitu:

Pertama, paradigma pendidikan holistik berkaitan dengan pandangan antropologisnya bahwa “subjek” merupakan pengertian yang berkorelasi dengan “subjek-subjek” lain. Makna “subjek” dalam paradigma  ini jauh berbeda dengan paradigma Modern Cartesian Newtonian, yaitu tidak terisolasi, tidak tertutup, dan tidak terkungkung, melainkan berinterkoneksi dengan pengada-pengada lain di alam raya. 

Kedua, paradigma pendidikan holistik juga berkarakter realis-pluralis, kritis-konstruktif, dan sintesis-dialogis. Pandangan holistik tidak mengambil pola pikir dikotomis atau binary logic yang memaksa harus memilih salah satu dan membuang yang lainnya, melainkan dapat menerima realitas secara plural sebagaimana kekayaan realitas itu sendiri.  Dalam konteks ini sistem pendidikan dibangun terpusat pada anak berdasarkan asumsi connectedness, wholeness dan being fully human. Dalam pendidikan holistik sangat menapikan adanya dikotomi dalam berbagai bentuknya, seperti dikotomi, dunia-akhirat, ilmu umum-agama/ ilmu syar`iyah-ghairu syar`iyah, akal-fisik, dan lain-lain.  Keduanya harus ada dan diperhatikan serta dibangun dalam relasi yang tidak terputus.

 

3.   Tujuan Pendididikan

     Pendidikan holistik membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demokratis dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya.  Jika merujuk pada pemikiran Abraham Maslow, maka pendidikan harus dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh aktualisasi diri (self-actualization) yang ditandai dengan adanya: (1) kesadaran; (2) kejujuran; (3) kebebasan atau kemandirian; dan (4) kepercayaan.

Pendidikan holistik tidak membatasi pada tiga ranah Bloomian saja tetapi menunut untuk memperhatikan seluruh kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual,  emosional, fisik, artistik, kreatif, dan spritual. Dalam konteks ini  Howard Gardner, dalam bukunya yang berjudul Frame of Mind, menyebutkan ada sembilan kecerdasan yang harus dikembangkan dan harus mendapat perhatian sebagai kehkususan, yaitu:

1.   kecerdasan linguistik kecerdasan untuk membaca, menulis, bercerita, bermain kata dan menjelaskan. Pembentukan ini agar anak kelak berkemampuan dalam bidang pemberitaan, jurnalistik, berpidato, debat, percakapan dan lain-lain.

2.   kecerdasan logis atau matematis yaitu kecerdasan dalam bereksperimen, bertanya, memecahkan teka-teki dan berhitung. Pembentukan ini diarahkan agar anak berhasil dalam bidang matematika, akutansi, program komputer, perbankan dan lain-lain.

3.   kecerdasan spatial atau visual yaitu kecerdasan dalam mendisain, menggambar, membuat sketsa, menvisualisasikan. Pembentukan kecerdasan ini agar anak memiliki kemampuan yang baik antara lain membuat peta, fotografi, melukis, desain rencang bangun dan lain- lain.

4.   kecerdasan body atau kenestetik yaitu kecerdasan untuk menari, berlari, membangun, menyentuh, bergerak dan kegiatan fisik lainnya. Pembinaan kecerdasan ini agar anak cemerlang dalam olah raga, seni tari, seni pahat, dan sebagainya.

5.   kecerdasan Musikal adalah kecerdasan untuk menyanyi, bersiul, bersenandung, menghentak-hentakkan kaki atau tangan, mendengar bunyi-bunyian. Pembinaan kecerdasan ini diarahkan agar anak mempunyai kecenderungan ini akan sukses dalam bernyanyi, menggubah lagu, memainkan alat musik dan lain-lain.

6.   kecerdasan interpersonal yaitu kecerdasan untuk memimpin, mengatur, menghubungkan, bekerja sama, berpesta dll. Pembinaan kecerdasan ini agar anak berhasil dalam pekerjaan seperti guru,pekerja sosial, pemimpin kelompok, organisasi, politik.

7.   kecerdasan intrapersonal yaitu kecerdasan untuk suka mengkhayal, berdiam diri, merencanakan, menetapkan tujuan, refleksi. Pembinaan kecerdasan ini agar anak cemerlang dalam filsafat, menulis penelitian dan sebagainya.

8.   kecerdasan natural yaitu kecerdasan untuk suka berjalan, berkemah, berhubungan dengan alam terbuka, tumbuh-tumbuhan, hewan. Pembinaan  kecerdasan ini agar anak dapat menguasaidan menyenangi dengan baik bidang botani, lingkungan hidup, kedokteran dan lain-lain.

9.   kecerdasan Eksistensialis yaitu kecerdasan untuk suka berfilsafat, suka agama, kebudayaan dan isu-isu sosial. Pada umumnya mereka berhasil dalam bidang keagamaan dan psikologi.

 

4.   Kurikulum

Kurikuilum adalah materi pelajaran, praktik, kegiatan dan seluruh pengalaman peserta didik di sekolah yang didesain secara matang agar peserta didik cerdas intelektual, emosional dan spiritual. Kurikulum sekolah mencakup kebiasaan, tata tertib, ekstra kurikuler, dan teladan dari pendidik, staf dan kepala sekolah.

Berbagai gambaran tentang pendidikan holistik diatas tampaknya lebih banyak didominasi oleh konsep kurikulum humanistik. Kurikulum ini adalah kurikulum yang didasari oleh suatu pandangan bahwa anak adalah merupakan sosok pribadi yang unik yang memiliki potensi dan kekuatan untuk berkembang sesuai dengan jati dirinya. Menurut para Humanis, kurikulum berfungsi menyediakan pengalaman yang berharga bagi setiap murid yang akan membantu memperlancar perkembangan pribadi anak. Bagi mereka tujuan pendidikan adalah proses perkembangan pribadi yang dinamis yang diarahkan kepada pertumbuhan, integritas dan otonomi kepribadian, sikap yang sehat terhadap diri sendiri, orang lain dan belajar. Ini semua merupakan cita-cita perkembangan manusia yang teraktualisasi (self actualizing person). Seorang yang telah mampu mengaktualisasikan diri adalah orang yang telah mencapai keseimbangan (harmoni) perkembangan seluruh aspek pribadinya, baik aspek kognitif, estetika, maupun moral. Kurikulum humanistik menuntut hubungan emosional yang baik antara pendidik dengan anak didik. Pendidikan harus mampu menciptakan hubungan yang harmonis dan hangat, selain juga mampu menjadi manusia sumber. Ia harus mampu memberikan materi yang menarik dan mampu menciptakan situasi yang memperlancar proses belajar. Sesuai dengan prinsip ayang dianut, kurikulum humanistik menekankan integrasi, yaitu kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual, tetapu juga emosional dan tindakan, bahkan yang spiritual. Kurikulum harus dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh, bukan pengalaman yang terpenggal-penggal.

Karena pendidikan bertujuan mengembangkan potensi manusia yang holistik, jasmani-rohani, akal-hati, dan intelektual-emosional, sosial-spiritual, maka kurikulum pendidikan pun mestinya berisi materi, aturan, kegiatan, dan program yang dapat dan terkait dengan pencapaian tujuan beragam aspek tersebut.

 

5.Strategi dan Metode

     Tujuan yang baik dan benar harus dilakukan dengan cara yang benar dan baik pula. Strategi dan metode pendidikan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.

Proses pembelajaran menjadi tanggung jawab personal sekaligus juga menjadi tanggung jawab kolektif. Oleh karena itu strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana orang belajar. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi pembelajaran holistik, diantaranya: (1) menggunakan pendekatan pembelajaran transformatif; (2) prosedur pembelajaran yang fleksibel; (3) pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu, (4) pembelajaran yang bermakna, dan (5) pembelajaran melibatkan komunitas di mana individu berada.Sekolah menjadi tempat peserta didik dan guru bekerja guna mencapai tujuan yang saling menguntungkan.

Komunikasi yang terbuka dan jujur sangat penting, perbedaan individu dihargai dan kerjasama lebih utama dari pada kompetisi.Untuk itu, sekolah harus memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya. Sekolah juga berkewajiban memberikan penilaian secara jujur dan proporsonal terhadap perkembangan setiap aspek siswa agar tingkat perkembangannya dapat diukur dan diarahkan. Sistem pendidikan holistik yang mengembangkan setiap potensi siswa akan membuat membuat proses belajar mengajar menjadi sangat menyenangkan (learning is fun).  Hal penting yang perlu dicatat bahwa aspek kognitif intelektual itu hanya sebagian kecil dari aspek-aspek yang lain yang tidak kalah pentingnya untuk dikembangkan. Aspek yang sangat dibutuhkan saat ini justru adalah dalam bentuk pembinaan watak dan kepribadian peserta didik secara utuh dan terpadu.

Dalam konteks pendidikan ini, menurut Azraharus dilaksanakan secara terpadu oleh keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam pandangan ilmuan, seperti dikemukakan oleh Philips (2000) keluarga hendaknya kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang. Dalam perspektif Islam, menurut Azra, keluarga sebagai madrasah mawaddah wa rahmah, tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih saying. Islam telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembinaan keluarga (usrah). Keluarga merupakan basis ummah (bangsa), dank arena itu keluarga sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri. Dalam kondisi pendidikan yang mawaddah wa rahmah, maka anak didik akan memiliki kesiapan penuh untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Dan untuk itu sekolah hendaknya tidak hanya menjadi tempat belajar menimba ilmu tetapi sekaligus sebagai tempat memperoleh pendidikan, termasuk pendidikan karakter atau sebagai tempat penanaman nilai-nilai. Selanjutnya  perlu dicatat bahwa pendidikan keluarga dan sekolah yang baik juga tidak sepenuhnya bisa menjamin pendidikan yang baik bagi anak didik. Dalam hal ini lingkungan masyarakat di mana anak hidup juga sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan anak, khususnya dalam penanaman nilai-nilai estetika dan etika untuk pembentukan karanter.

Dalam perspektif Islam, menurut Quraish Shihab, situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandangan masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada kini dan di sini pula. Dalam konteks pendidikan masyarakat ini, menurut beliau dalam al quran banyak ayat yang menekankan perlunya penegakan amar ma`ruf dan nahy munkar, dan tentang fardhu kifayah, tanggung jawab bersama dalam menegakkan nilai-nilai yang baik dan mencegah nilai-nilai yang buruk. Dengan demikian, sebagaimana Jeremy Henzell-Thomas yang telah dikemukakan di atas, bahwa pendidikan holistik adalah merupakan suatu upaya membangun secara utuh dan seimbang pada setiap murid dalam seluruh aspek pembelajaran, yang mencakup spiritual, moral, imajinatif, intelektual, budaya, estetika, emosi dan fisik yang mengarahkan seluruh aspek-aspek tersebut ke arah pencapaian sebuah kesadaran tentang hubungannya dengan Tuhan yang merupakan tujuan akhir dari semua kehidupan didunia.

 

6.   Aplikasi Pendidikan Holistik

     Dalam upaya perwujudan pendidikan holistik yang dapat pembinaan karakter dan kepribadian tersebut (di keluarga, sekolah, dan masyarakat) hendaknya melakukan model-model pendidikan sebagai berikut:

Pertama, menerapkan pendekatan modeliing atau exemplary atau uswah hasanah, yakni mensosialisasikan dan membiasakan lingkungan pendidikan untuk menghidupkan dan menegakkan nilai-nilai akhlak dan moral yang benar melalui model atau teladan.  Setiap tenaga pendidik hendaknya mampu menjadi uswah hasanah yang hidup bagi setiap peserta didik.

Kedua, menjelaskan atau mengklarifikasikan kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan buruk dengan pendekatan yang bisa diterima oleh peserta didik.

Ketiga, menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character-based education). Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan character-based approach kedalam setiap mata pelajaran yang ada di samping matapelajaran-matapelajaran khusus untuk pendidikan karakter, seperti pelajaran agama, sejarah, pancasila, dan sebagainya.;

Keempat, Jika masihmenggunakan model pengembangan pembelajaran Bloomian harus memperhatikan keseimbangan ketiga ranah dan memasukkan ranah lainnya seperti ranah emosional, spiritual, dan ranah kecerdasan lainnya secara terpadu, sehingga berbagai indikator proses dan pencapaian pembelajaran tidak dikemas dan diukur semata-mata dalam kacamata behavioristik yang harus selalu terpilah, jelas, terukur dan harus bisa diobservasi.

Pendidikan holistik juga dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran dengan menerapkan Integrated Learning atau pembelajaran terintergrasi/ terpadu, yaitu suatu pembelajaran yang memadukan berbagai materi dalam satu sajian pembelajaran. Inti pembelajaran ini adalah agar siswa memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi lainnya, antara saru mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Dari integrated learning inilah muncul istilah integrated curriculum (kurikulum terintegrasi/terpadu). Karakteristik kurikulum terintegrasi secara praktis menurut Lake dalam Megawangi, et.al antara lain : Adanya keterkaitan antar mata pelajaran dengan tema sebagai pusat keterkaitan, menekankan pada aktivitas kongkret atau nyata, memberikan peluang bagi siswa untuk bekerja dalam kelompok. Selain memberikan pengalaman untuk memandang sesuatu dalam perspektif keseluruhan, juga memberikan motivasi kepada siswa untuk bertanya dan mengetahui lebih lanjut mengenai materi yang dipelajarinya.

     Dari pengertian istilah di atas dapatdisimpulkan bahwa kurikulum terpadu sebagai sebuah konsep dapat dikatakan sebagai sebuah sistem dan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa disiplin ilmu atau mata pelajaran/bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna dan luas kepada peserta didik. Dikatakan bermakna karena dalam konsep kurikulum terpadu, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu secara utuh dan realistis. Dikatakan luas karena pengetahuan yang mereka dapatkan tidak dibatasi oleh lingkup disiplin tertentu saja, tetapi melingkupi semua lintas disiplin yang dipandang berkaitan antar satu sama lain. Sebagaimana dikemukakan Fogarty di atas dapat dalam bentuk antar dua disiplin atau inter beberapa disiplin ilmu. Dalam kontek pelajaran disekolah, konsep kurikulum terpadu dapat merupakan pemaduan materi, tema, pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang terpadap pada dua atau beberapa mata pelajaran/bidang studi yang terdapat di sekolah.

C. KESIMPULAN

     Dari gambaran model pendidikan holistik di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan holistik memiliki karakteristik sebagai berikut:

Pertama, bahwa pendidikan holistik adalah merupakan suatu upaya membangun peserta didik secara utuh dan seimbang dalam seluruh aspek dirinya sebagai manusia, baik aspek jasmani maupun rohani, yang mencakup aspek fisik,  intelektual, emosional, spiritual, dan lainnya. Dalam istilah lain, pendidikan yang dapat membangun segenap potensi (kecerdasan) yang dimiliki anak, yang meliputi: kecerdasan linguistik,kecerdasan logis atau matematis, kecerdasan spatial atau visual, kecerdasan body atau kenestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan natural, dan kecerdasan eksistensialis.

Kedua, pendidikan yang mencakup pemberian segenap ilmu pengetahuan secara lengkap dan utuh, baik ilmu pengetahuan duniawi maupun ukhrawi, ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan keagamaan, ilmu pengetahuan umum maupun spesialis.

Ketiga, pendidikan yang tidak teralienasi dengan lingkungan dan budayanya. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan dan proses pembelajaran yang dilakukan harus menyatu dan sejalan dengan budaya dan perkembangan lingkungannya.

Keempat, pendidikan yang melibatkan segenap pihak yang bertanggung jawab, baik pendidikan di lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Kelima, pendidikan yang dikembangkan melalui pembelajaran yang tidak dibatasi pada model dan pendekatan pendidikan subjek akademik dan teknologis semata, tetapi juga memasukkan model dan pendekatan pendidikan humanistik dan rekonstruksi sosial.

 

 

------------------------------------------------------------------------------------------------

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Affan, Junifar, (1987),Mendidik dari Zaman ke Zaman, Jakarta, Jemmars,

 

Azra, Azyumardi (2002). Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Fogarty, Robin (1991). How to Integrate The Curricula.  New York: IRI/Skylight Publishing. Inc.

H.A.R. Tilaar. (1999). Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia: Strategi Reformasi Pendidikan Nasional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

———.2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Heriyanto, Husain (2003). Paradigma Holisti: Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, Bandung: Mizan Media Utama.

Heriyanto, Husain (2003). Paradigma Holisti: Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, Bandung: Mizan Media Utama.

Hernowo, (2008), Membacalah agar dirimu Mulia,Pesan Dari langit,  Bandung,Mizan Publishing,

Megawangi, Ratna, et al,(2005), Pendidikan Holistik, Cimanggis, Indonesia Heritage Foundation,

Webster, Noah (1980). Webster`s New Twentieth Century Dictionary of The English Language.  Buenos Aires: William Collins Publisher Inc., Second Edition,

©2010 Kementerian Agama Republik Indonesia Pusat Informasi Keagamaan dan Kehumasan
Halaman ini diproses dalam waktu 0.007942 detik